Sertifikasi Guru Bukan Jaminan

Pepatah mengatakan GURU KENCING BERDIRI, MURID KENCING BERLARI.Jika gurunya jelek maka muridnya lebih parah. Barangkali demikian wajah dunia pendidikan. Jika ingin menciptakan siswa yang berkualitas dan bermutu maka gurunya harus bermutu dan berkualitas serta profesional dalam menjalankan tugasnya. Sebaliknya jika guru tersebut tidak memiliki kualitas maka jangan berharap siswanya dapat menjadi manusia yang berkualitas. Guru profesional merupakan syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas oleh karena itu guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Upaya pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut salah satunya adalah dengan mengadakan sertifikasi guru. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru.Sertifikasi guru bertujuan untuk; menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan; meningkatkan martabat guru; meningkatkan profesionalitas guru. Pertanyaannya adalah apakah sertifikat yang diperoleh seorang guru menjamin peningkatan kualitas guru yang bersangkutan?

Seringkali saya diberikan tawaran oleh teman sejawat untuk mengajukan sertifikasi guru dengan alasan agar mendapat tunjangan profesional. Lumayan dapat memperoleh tunjangan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Segala daya upaya dikerahkan untuk memenuhi kriteria syarat pengajuan agar tujuan tercapai yakni mendapat tunjangan. Hal inilah yang dapat mengundang kecurangan dalam pendokumentasian portofolio. Kiranya jika hal ini yang menjadi dasar ketertarikan seorang guru untuk mendapatkan sertifikasi guru, perlu dipertanyakan kualitas guru tersebut.

Perlu kesadaran dan pemahaman semua pihak bahwa tujuan utama sertifikasi adalah untuk mendapatkan kualitas. Kualitas dapat terwujud melalui aktifitas yang benar untuk menggapainya. Tunjangan yang diberikan hanyalah konsekwensi logis sebagai wujud penghargaan atas kemampuannya. Rekan-rekan guru Indonesia, kini saatnya kita tunjukkan eksistensi kita sebagai guru berkualitas. Semua guru harus sudah memiliki sertifikat pendidik selama 10 tahun setelah UUGD disahkan. Berarti tahun 2015 proses sertifikasi guru dalam jabatan harus sudah selesai. Kesempatan kita masih panjang. Oleh karena itu mari luruskan niat demi terciptanya masyarakat pembelajar yang berkualitas.